Beternak dengan Kandang Tradisional, Tinggi Risiko!

Peternakan-Ayam

Ada pilihan yang bisa diambil untuk beternak ayam, apakah ingin menggunakan kandang terbuka (open house), semi-tertutup (semi closed house), atau tertutup (closed house).

Ketiganya memiliki perbedaan dalam beberapa aspek termasuk kekurangan serta kelebihannya.

Sudah banyak peternak yang memodernkan kandangnya, namun, di Indonesia tidak sedikit pula yang masih menggunakan kandang tradisional alias kandang terbuka (open house) sementara jenis kandang tersebut memiliki risiko yang cukup tinggi dan rawan bagi ayam ternak.

Kandang Tradisional

Kandang tradisional pada rumah ayam pedaging/broiler biasanya berupa bangunan dengan atap yang tinggi, ventilasi alami, sistem air minum manual, dinding samping terbuka, dan lantai miring.

Sedangkan kandang modern (closed house dan semi closed house) memiliki langit-langit rendah, ventilasi terowongan mekanik, sistem air minum dan pakan otomatis, dinding samping yang semi tertutup (dengan tirai plastik), dan lantai dengan litter.

Apa yang tersedia pada kandang closed house memungkinkan pemenuhan kebutuhan ayam dengan lebih maksimal.

Kandang terbuka yang rupanya masih cukup banyak digunakan oleh para peternak di Indonesia biasanya memiliki dinding yang terbuat dari kawat, kayu, atau bambu, yang dimaksudkan sebagai jalan sirkulasi udara kandang.

Hal ini menunjukkan bahwa kandang tipe terbuka amat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan luar.

Sementara, pertumbuhan dan kesehatan ayam ternak amat dipengaruhi oleh suhu, kelembapan, bahkan bebauan dari sekitarnya.

Kondisi lingkungan terbuka yang tidak bisa dikendalikan akan berpengaruh pada produktivitas ayam ternak.

Bagaimana Kondisi Di Dalam Kandang?

Untuk menyiasati persoalan suhu dan kelembapan tersebut, peternak yang menggunakan kandang terbuka perlu mengatur kondisi dalam kandang, mengatur jarak antar kandang, lebar dan ketinggian kandang, serta ventilasi untuk mengatur sirkulasi udara.

Peternak harus bisa memilih kandang yang sesuai dengan lahan serta lingkungan. Tidak seperti kandang closed house yang setiap aspeknya dapat diatur, dikendalikan, dan dipantau agar sedapat mungkin mencapai target yang diinginkan.

Kandang terbuka akan selalu dipengaruhi oleh keadaan lingkungan seperti perubahan cuaca. Di sinilah salah satu risiko tertinggi yang harus dihadapi peternak dengan kandang tradisional.

Masalah yang kerap terjadi ialah di saat ayam perlu lingkungan dengan suhu rendah, suhu alami di luar kandang pada siang hari dapat mencapai 32-34oC.

Diperlukan sebuah konsep untuk menyesuaikan suhu agar ayam tetap merasa nyaman berada dalam kandang. Pada kandang tradisional, ini berarti terus merubah sistem kandang sesuai dengan lingkungan, yang mana memakan banyak biaya dan tenaga.

Apabila memilih untuk tetap menggunakan kandang tradisional, peternak harus mengetahui bagaimana cara merawat sekam, serta sistem buka tutup tirai ayam saat sudah mendekati panen.

Namun, telah banyak data survei mengenai kurangnya efektivitas kandang tradisional yang salah satunya dinilai tidak mampu memenuhi tuntutan pasar. Modernisasi kandang tetap perlu diinisiasi demi peternakan yang lebih produktif.

Chickin hadir membantu peternakan ayam dengan memanfaatkan teknologi sistem IoT dalam sistem perkandangan Micro Climate Controller.

Chickin juga menyediakan Ayam Karkas berkualitas untuk kebutuhan Industri dengan harga terjangkau. Bersama Chickin, wujudkan sinergi ketahanan pangan Indonesia!

Chickin – PT Sinergi Ketahanan Pangan

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts