Standar dan Cara Menghitung FCR Ayam Broiler

Cara-Menghitung-FCR-Ayam-Broiler

Dalam menjalankan usaha ternak ayam broiler, penting halnya untuk mengontrol produktivitas budidaya secara rutin.

Dengan melaksanakan hal ini, maka besar kemungkinan kamu sebagai peternak dapat menghasilkan ayam broiler yang berkualitas dan berbobot tinggi.

Salah satu tolak ukur tingkat produktivitas ayam broiler yang dapat kamu gunakan adalah FCR. Dengan mencari tahu nilai FCR budidaya, maka kamu dapat menganalisis seberapa baik tingkat produktivitas budidaya.

Apa Itu FCR?

FCR (Feed Conversion Ratio) merupakan jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging ayam broiler.

Semakin kecil nilai FCR, maka produktivitas budidaya semakin baik. Mengapa demikian? Karena semakin kecil nilai FCR, maka semakin sedikit pula pakan yang kamu butuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging ayam broiler.

Produktivitas yang baik ini juga akan membantu menekan biaya pengeluaran pakan. Oleh karena itu, ada baiknya untuk menghitung FCR secara rutin agar kamu bisa mengetahui data terbaru tingkat produktivitas budidaya. Dengan demikian, kamu dapat mengidentifikasi apabila produktivitas ayam broiler sedang menurun, kemudian mengatasinya dengan segera.

Cara mengetahui baik tidaknya nilai FCR budidaya adalah dengan membandingkannya dengan nilai standar FCR ayam broiler.

Standar FCR Ayam Broiler

Standar FCR ayam broiler merupakan standar jumlah pakan yang diperlukan untuk menghasilkan 1 kg daging ayam broiler.

Untuk dapat membandingkan nilai FCR dengan akurat, ada baiknya untuk mencari tahu strain atau klasifikasi ayam broiler budidaya terlebih dahulu. Klasifikasi ayam broiler yang populer di Indonesia adalah jenis Ross dan Cobb.

Berikut merupakan tabel standar FCR ayam broiler dilansir dari ScienceDirect:

Strain (Jenis broiler)0-7 hari7-14 hari14-21 hari21-28 hari28-35 hari35-42 hari
Ross1,2721,2291,3121,3851,4451,775
Cobb1,2671,2421,331,3981,4471,801

Tabel standar FCR ayam broiler

Kemudian, bagaimana cara membandingkan nilai FCR? Hal ini penting untuk kamu pahami agar dapat menafsirkan nilai FCR dengan tepat.

Apabila FCR berada di bawah standar, maka budidaya terbilang memiliki tingkat produktivitas yang baik. Nilai FCR yang di bawah standar memiliki arti bahwa budidaya membutuhkan jumlah pakan yang lebih sedikit dari standar konsumsi untuk menghasilkan 1 kg daging ayam broiler.

Sebaliknya, nilai FCR yang di atas standar memiliki arti bahwa budidaya kamu membutuhkan lebih banyak pakan dari standar konsumsi untuk menghasilkan 1 kg daging ayam broiler. 

Setelah mengetahui dan memahami standar FCR ayam broiler, kini saatnya untuk mengetahui cara menghitung FCR ayam broiler.

Cara Menghitung FCR Ayam Broiler

Menghitung FCR ayam broiler bukan merupakan hal yang sulit. Kamu hanya memerlukan data total berat ayam broiler budidaya serta total seluruh konsumsi pakan.

Berikut merupakan cara menghitung FCR ayam broiler:

FCR = Total konsumsi pakan (kg)Total berat seluruh ayam (kg)

Kami akan memberikan contoh cara menghitung FCR ayam broiler agar kamu dapat melakukannya dengan mudah.

Contoh 1: FCR di Bawah Standar

Misalkan, Chickin Indonesia memiliki 3000 ekor ayam broiler berumur 32 hari dengan bobot rata-rata 2 kg. Budidaya ini menghabiskan 158 sak pakan. Mengetahui bahwa 1 sak adalah 50 kg, maka total konsumsi pakan yaitu sebanyak 7900 kg

Berdasarkan kasus tersebut, kita dapat meringkas data-data terlebih dahulu untuk mempermudah perhitungan, seperti berikut:

Umur budidaya : 32 hari

Total konsumsi pakan : 7900 kg

Total berat seluruh ayam : 3000 x 2 = 6000 kg

Karena sudah memperoleh data total konsumsi pakan dan total berat ayam broiler, maka kita dapat langsung menghitung FCR ayam broiler.

FCR = Total konsumsi pakan (kg)Total berat seluruh ayam (kg)

FCR = 7900 kg6000 kg =1,316

Dari perhitungan tersebut, maka FCR ayam broiler Chickin Indonesia yang berumur 32 hari adalah 1,316. Selanjutnya, bandingkan FCR tersebut dengan nilai standar FCR ayam broiler dengan umur yang bersesuaian.

Berdasarkan tabel standar FCR ayam broiler, ayam broiler dengan kisaran umur 28-35 hari memiliki standar FCR 1,445 untuk jenis Ross, serta 1,447 untuk jenis Cobb.

FCR ayam broiler Chickin Indonesia bernilai 1,316, lebih rendah dari standar FCR ayam broiler jenis Ross maupun Cobb. Hal ini mengartikan bahwa ayam broiler Chickin Indonesia membutuhkan jumlah pakan lebih sedikit dari standar untuk menghasilkan 1 kg daging ayam broiler.

Dengan demikian, maka FCR ayam broiler Chickin Indonesia termasuk ke dalam kategori bagus dan memiliki tingkat produktivitas yang tinggi.

Contoh 2: FCR di Atas Standar

Pada kasus ini, misalkan terdapat 500 ekor ayam broiler pada peternakan milik Atok Dalang. Ayam yang berumur 15 hari ini memiliki bobot rata-rata 1,7 kg dan mengonsumsi pakan dengan total sebanyak 24 sak (1200 kg).

Maka ringkasan data peternakan Atok Dalang, serta nilai akhir FCR-nya adalah sebagai berikut:

Umur budidaya : 15 hari

Total konsumsi pakan : 1200 kg

Total berat seluruh ayam : 500 x 1,7 = 850 kg

FCR = Total konsumsi pakan (kg)Total berat seluruh ayam (kg)

FCR = 1200 kg850 kg =1,412

Berdasarkan perhitungan, kita mengetahui FCR peternakan ayam broiler Atok Dalang yang berumur 15 hari adalah 1,412.

Jika melihat pada tabel standar FCR ayam broiler, FCR ayam dengan kisaran umur 14-21 adalah 1,312 untuk jenis Ross dan 1,33 untuk jenis Cobb. Dengan demikian, maka budidaya ayam broiler milik Atok Dalang memiliki nilai FCR yang lebih besar.

Berdasarkan pengamatan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa FCR peternakan ayam broiler milik Atok Dalang masih kurang bagus. Nilai FCR yang lebih tinggi dari standar mengartikan bahwa budidaya membutuhkan lebih banyak pakan dari jumlah standar untuk menghasilkan 1 kg daging. Oleh karena itu, maka tingkat produktivitasnya masih belum maksimal 

Menghadapi kondisi ini, hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mencari tahu dan mengatasi penyebab tingginya nilai FCR agar tidak terjadi pemborosan biaya.

Faktor yang Mempengaruhi FCR

Berdasarkan data dari Ross Tech Note, berikut merupakan beberapa hal yang mempengaruhi FCR peternakan ayam broiler:

  1. Sistem pemberian makanan
  2. Keseimbangan manajemen air
  3. Kesesuaian temperatur kandang
  4. Penggunaan ventilasi
  5. Kesesuaian pakan

Anda dapat mengunjungi halaman ini untuk mengetahui lebih lanjut mengenai proses manajemen ayam broiler yang efektif untuk memperbaiki nilai FCR.

Kita dapat mengambil contoh nyata dari sistem manajemen kandang Chickin Indonesia yang memiliki tingkat FCR < 1,5. Rahasia nilai FCR Chickin Indonesia yang baik adalah sistem Chickin Smart Farm yang membuat manajemen budidaya menjadi lebih optimal.

Dengan menggunakan Micro Climate Controller yang memanfaatkan teknologi IoT dan AI, Chickin Smart Farm dapat mengatur suhu, kelembapan, serta kadar oksigen secara otomatis menyesuaikan dengan umur ayam broiler.

Tak hanya itu, sistem distribusi pakan dan air minum juga terlaksana secara otomatis. Dengan demikian, kami dapat memastikan budidaya kami mengonsumsi pakan dan air minum dengan seimbang.

Rahasia-rahasia inilah yang membuat ayam broiler hasil budidaya Chickin Smart Farm memiliki tingkat FCR < 1,5 serta tingkat produktivitas hingga 300-400%. Oleh karena itu, sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa daging ayam broiler yang kami sediakan pada Chickin Fresh memiliki kualitas serta bobot yang tinggi.

Untuk memastikan bahwa produk-produk Chickin Fresh dalam kondisi terbaik dan banyak digemari, kami juga memperhatikan aspek-aspek kehigienisan serta kelayakan proses pemeliharaan, pemotongan, hingga distribusi ayam broiler.

Dengan demikian, kami dapat menyediakan daging ayam broiler berkualitas tinggi yang telah memenuhi standar NKV dan memiliki jaminan halal untuk keperluan industri.

Bersama Chickin, wujudkan sinergi ketahanan pangan di Indonesia!

Chickin Indonesia – PT Sinergi Ketahanan Pangan

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts