Dalam operasional peternakan modern, kualitas hasil tidak hanya ditentukan oleh sistem dan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan tim yang menjalankannya di lapangan.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Chickin Indonesia menyelenggarakan GS & FRO Training Smart Farm Batch 1 tahun 2026 yang berlangsung di Banjarbaru dan Palangkaraya. Program ini diikuti oleh tim Farm Relation Officer (FRO) dan General Support (GS) di wilayah Kalimantan sebagai bagian dari upaya memperkuat standar operasional dan kualitas pendampingan kepada peternak.
BACA JUGA: Chickin Perkuat Komitmen Zakat Bersama BAZNAS Yogyakarta
Dari Aktivitas Harian ke Standar yang Lebih Terstruktur
Dalam praktiknya, banyak aktivitas operasional di farm yang berjalan berdasarkan kebiasaan di lapangan. Melalui training ini, Chickin mendorong adanya penyelarasan menjadi standar kerja yang lebih terukur dan konsisten.
Peserta mendapatkan penguatan terkait manajemen kandang, alur administrasi, hingga pencatatan performa produksi. Hal-hal yang sebelumnya dilakukan secara rutin diperdalam kembali dengan pendekatan yang lebih sistematis, mulai dari bagaimana data dicatat, hingga bagaimana data tersebut digunakan untuk evaluasi.
Dengan pendekatan ini, setiap aktivitas tidak lagi sekadar dijalankan, tetapi memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pembelajaran dari Lapangan

Salah satu fokus utama dalam training ini adalah memastikan materi yang diberikan benar-benar relevan dengan kondisi di lapangan.
Topik seperti pengelolaan kesehatan ayam, penanganan penyakit, hingga standar pemeliharaan dibahas melalui studi kasus yang sering ditemui oleh tim FRO dan GS di Kalimantan. Diskusi tidak berhenti pada “apa yang harus dilakukan”, tetapi juga menggali “kenapa hal tersebut terjadi” dan “bagaimana solusi terbaiknya”.
Pendekatan ini membantu peserta untuk lebih siap menghadapi berbagai situasi di farm, termasuk kondisi yang tidak ideal.
Menjadikan Data sebagai Dasar dalam Menentukan Langkah Operasional
Salah satu perubahan penting yang didorong dalam training ini adalah pergeseran cara kerja di lapangan, dari yang sebelumnya lebih banyak mengandalkan kebiasaan, menjadi pendekatan yang lebih terstruktur dan berbasis data. Dalam operasional sehari-hari, banyak keputusan yang sebelumnya diambil berdasarkan pengalaman atau rutinitas, kini mulai diarahkan untuk memiliki dasar yang lebih terukur. Melalui training ini, peserta diperkenalkan pada pentingnya data sebagai fondasi dalam memahami kondisi farm secara lebih menyeluruh, sehingga setiap langkah yang diambil tidak hanya cepat, tetapi juga lebih tepat sasaran.
Peserta juga dibekali dengan pemahaman yang lebih mendalam terkait alur pencatatan operasional, mulai dari recording kandang, RHPP, hingga proyeksi kebutuhan pakan. Tidak berhenti pada proses pencatatan, tim dilatih untuk mampu membaca, mengolah, dan menarik insight dari data tersebut sebagai dasar dalam menentukan tindakan selanjutnya. Dengan pendekatan ini, peran tim tidak lagi sebatas menjalankan tugas, tetapi juga berkembang menjadi problem solver yang mampu menganalisis situasi dan mengambil keputusan secara lebih akurat, terukur, dan berdampak langsung pada performa farm.
Koordinasi Lapangan yang Lebih Kuat dan Terarah
Selain aspek teknis, training ini juga memberikan perhatian pada pentingnya komunikasi dan koordinasi antar tim sebagai bagian dari kelancaran operasional di lapangan. Dalam praktiknya, banyak tantangan yang tidak bisa diselesaikan secara individu, melainkan membutuhkan kerja sama yang solid antar peran. Karena itu, peserta diajak untuk memahami bagaimana membangun komunikasi yang lebih efektif, menyampaikan informasi dengan jelas, serta memastikan koordinasi berjalan dengan lebih terarah di setiap kondisi.
Melalui sesi diskusi dan forum group discussion (FGD), peserta diberikan ruang untuk saling berbagi pengalaman terkait berbagai tantangan yang mereka hadapi di lapangan. Dari proses ini, muncul beragam perspektif yang membantu memperluas cara pandang, sekaligus membuka peluang untuk menemukan solusi yang lebih relevan dan aplikatif. Interaksi ini tidak hanya memperkaya wawasan individu, tetapi juga memperkuat rasa saling percaya dan kolaborasi antar tim, sehingga ke depannya setiap pekerjaan dapat dijalankan dengan lebih sinkron, responsif, dan adaptif terhadap dinamika operasional.
Menguatkan Skill dan Cara Berpikir

Training ini juga mendorong peserta untuk lebih mengenal cara kerja dan pola pikir masing-masing, tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari bagaimana mereka memahami peran dan tanggung jawabnya di lapangan. Melalui sesi seperti refleksi diri dan “finding why”, peserta diajak untuk melihat kembali motivasi mereka dalam bekerja, apa yang menjadi kekuatan utama, serta area mana yang masih bisa terus dikembangkan. Proses ini membantu setiap individu untuk lebih sadar terhadap kontribusinya, sekaligus memahami bagaimana mereka bisa memberikan dampak yang lebih optimal dalam tim.
Pendekatan ini menjadi penting karena dalam operasional yang dinamis, kemampuan teknis saja tidak selalu cukup. Dibutuhkan pola pikir yang terbuka terhadap pembelajaran, siap menerima masukan, dan mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi di lapangan. Dengan membangun kesadaran ini, peserta tidak hanya berkembang dari sisi skill, tetapi juga dari cara mereka merespons tantangan, mengambil inisiatif, dan bekerja sama dengan tim.
Lebih jauh lagi, penguatan aspek personal ini juga berpengaruh langsung terhadap kinerja sehari-hari. Ketika individu memiliki pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, mereka cenderung lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, lebih proaktif dalam mencari solusi, dan lebih mudah berkolaborasi dengan rekan kerja. Inilah yang menjadi fondasi penting dalam membangun tim yang tidak hanya kompeten, tetapi juga solid dan siap bertumbuh bersama.
Dampak Langsung ke Kualitas Pendampingan Peternak
Sebagai tim yang berinteraksi langsung dengan peternak, peningkatan kapasitas FRO dan GS memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap kualitas layanan Chickin.
Dengan pemahaman yang lebih kuat dan cara kerja yang lebih terstruktur, tim dapat memberikan pendampingan yang lebih tepat, cepat, dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Hal ini menjadi kunci dalam membangun hubungan yang lebih solid dan berkelanjutan dengan peternak sebagai mitra utama Chickin.
Langkah Kecil yang Menentukan Dampak Jangka Panjang
Training ini menjadi salah satu langkah konkret Chickin dalam memperkuat fondasi internal. Bukan hanya untuk meningkatkan performa tim, tetapi juga untuk memastikan bahwa setiap proses operasional berjalan dengan standar yang lebih baik.
Ke depan, Chickin akan terus mendorong inisiatif serupa sebagai bagian dari komitmen untuk tumbuh bersama tim, bersama peternak, dan bersama ekosistem peternakan Indonesia.
Mari Bergabung dengan Komunitas Broiler Chickin Indonesia
Dengan bergabung bersama komunitas Chickin Indonesia, Anda akan terhubung dengan peternak-peternak broiler lainnya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Anda dapat saling bertanya, diskusi, dan mengetahui update terbaru seputar industri peternakan ayam broiler. Selain itu, Anda dapat pula berkonsultasi dengan tim Chickin Indonesia untuk bertanya perihal beternak ayam broiler.
Komunitas ini terbuka baik bagi Anda yang baru memulai beternak maupun sudah memiliki peternakan dengan populasi dengan jumlah tertentu.
Klik link “Daftar” berikut untuk bergabung komunitas broiler Chickin Indonesia.
→ Daftar
