Chickin Blog

Harga Ayam Livebird Anjlok? Ini Cara Peternak Tetap Untung!

·
Radhiesta
Harga Ayam Livebird Anjlok? Ini Cara Peternak Tetap Untung!

Fluktuasi harga ayam livebird menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi peternak broiler di Indonesia. Harga dapat berubah dalam waktu singkat sehingga peternak harus terus beradaptasi agar usahanya tetap berjalan. Penurunan harga yang tajam dapat mengurangi keuntungan dan meningkatkan risiko kerugian. Kondisi semakin berat ketika harga jual berada di bawah biaya produksi. Di sisi lain, biaya pakan, tenaga kerja, dan pemeliharaan kandang tetap harus dikeluarkan.
Karena itu, peternak perlu menyusun strategi agar usaha tetap berkelanjutan di tengah fluktuasi pasar.

Kondisi tersebut masih menjadi perhatian pada pertengahan 2026. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa harga ayam hidup di beberapa wilayah sempat mengalami tekanan hingga berada jauh di bawah harga acuan pemerintah, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi peternak rakyat. Pemerintah pun melakukan berbagai upaya stabilisasi untuk menjaga keberlangsungan industri perunggasan dan melindungi peternak dari dampak penurunan harga yang berkepanjangan.

Di lapangan, setiap peternak memiliki pendekatan yang berbeda untuk menghadapi kondisi tersebut. Ada yang berfokus pada efisiensi biaya, ada yang menunda panen dengan harapan harga membaik, dan ada pula yang memilih bergabung dalam program kemitraan untuk memperoleh kepastian usaha. Masing-masing strategi memiliki kelebihan dan pertimbangannya sendiri.

Artikel ini akan membahas beberapa langkah yang dapat dilakukan peternak ketika harga ayam livebird sedang turun, mulai dari upaya meningkatkan efisiensi produksi hingga peran kemitraan sebagai salah satu solusi untuk menjaga keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.

BACA JUGA: Harga Ayam Sering Berubah, Apa Saja Penyebabnya?

1. Fokus pada Efisiensi Biaya Produksi

Saat harga ayam livebird sedang rendah, efisiensi biaya produksi menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga keuntungan. Meski tidak dapat mengendalikan harga pasar, peternak masih bisa mengoptimalkan berbagai aspek operasional agar biaya tetap terkendali.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mengatur penggunaan pakan sesuai kebutuhan dan fase pertumbuhan ayam.
  • Menjaga kualitas air minum agar konsumsi dan performa ayam tetap optimal.
  • Memastikan ventilasi, suhu kandang, dan kepadatan populasi berada pada kondisi ideal.
  • Menerapkan biosekuriti dan sanitasi kandang untuk mencegah penyakit.
  • Melakukan vaksinasi serta pengobatan sesuai anjuran agar mortalitas tetap rendah.
  • Mengurangi pemborosan penggunaan listrik, air, dan perlengkapan operasional.

Selain menekan biaya, peternak juga perlu menjaga produktivitas ayam. Ayam yang sehat dengan pertumbuhan optimal dan tingkat kematian rendah umumnya menghasilkan bobot panen yang lebih baik. Kondisi ini membantu menekan biaya produksi per kilogram bobot hidup dan meningkatkan efisiensi usaha secara keseluruhan.

Semakin efisien biaya produksi yang dikelola, semakin besar peluang peternak untuk bertahan dan tetap memperoleh hasil yang optimal meski harga pasar sedang melemah.

2. Memperpanjang Masa Pemeliharaan, Apakah Selalu Menguntungkan?

Ketika harga ayam livebird mengalami penurunan tajam, sebagian peternak memilih untuk menunda panen dan memperpanjang masa pemeliharaan ayam. Jika umumnya ayam broiler dipanen pada usia sekitar 28 hari, beberapa peternak memutuskan untuk memeliharanya hingga 35 bahkan 40 hari dengan harapan harga akan membaik sehingga hasil penjualan menjadi lebih baik.

Strategi ini dapat menjadi salah satu opsi ketika harga ayam sedang rendah. Namun, keputusan tersebut perlu disertai perhitungan yang matang. Setiap tambahan hari pemeliharaan akan meningkatkan biaya operasional. Biaya tersebut meliputi pakan, listrik, tenaga kerja, dan perawatan kandang. Selain itu, pertambahan bobot ayam pada usia tertentu tidak selalu sebanding dengan biaya tambahan yang dikeluarkan.

Selain itu, memperpanjang masa pemeliharaan dapat meningkatkan risiko kepadatan kandang. Kondisi ini juga berpotensi menurunkan performa ayam dan memicu gangguan kesehatan. Risiko tersebut akan semakin besar jika manajemen pemeliharaan tidak dilakukan dengan baik. Oleh karena itu, strategi ini perlu dipertimbangkan secara menyeluruh. Peternak sebaiknya memperhitungkan kondisi pasar, biaya produksi, target bobot, dan kapasitas kandang sebelum menunda panen.

Pada akhirnya, keputusan terbaik bukan hanya menunggu harga naik, tetapi memastikan bahwa setiap tambahan hari pemeliharaan masih memberikan nilai ekonomi yang menguntungkan bagi usaha peternakan.

3. Menjaga Performa Ayam Tetap Optimal

Saat kondisi pasar kurang menguntungkan, kualitas hasil panen tetap menjadi faktor penting. Ayam dengan pertumbuhan yang baik, tingkat kesehatan terjaga, dan bobot yang sesuai target memiliki peluang lebih besar untuk diterima pasar dengan harga yang kompetitif.

Penerapan biosekuriti, pemberian pakan yang tepat, serta pemantauan kesehatan secara rutin menjadi investasi penting untuk menjaga produktivitas kandang.

4. Bermitra untuk Mengurangi Risiko Usaha

Di tengah fluktuasi harga ayam livebird yang sulit diprediksi, bergabung dengan program kemitraan dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi risiko usaha. Salah satu keuntungan yang paling dirasakan peternak adalah adanya kepastian penjualan dan skema kerja sama yang telah disepakati sejak awal.

Melalui sistem kemitraan, harga pembelian ayam umumnya telah diatur dalam kontrak sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, ketika harga pasar mengalami penurunan tajam, peternak tetap memiliki kepastian bahwa hasil panennya akan diserap sesuai harga kontrak yang telah disepakati, sehingga risiko kerugian akibat anjloknya harga dapat diminimalkan.

Selain memberikan kepastian pasar, kemitraan juga biasanya disertai dengan pendampingan teknis, penerapan standar budidaya, dan dukungan operasional untuk membantu peternak menjaga performa produksi. Hal ini memungkinkan peternak lebih fokus pada pengelolaan kandang dan kesehatan ayam tanpa harus terlalu khawatir terhadap gejolak harga harian di pasar.

Bagi peternak yang ingin menjalankan usaha secara lebih stabil dan berkelanjutan, kemitraan dapat menjadi solusi untuk memperoleh kepastian usaha sekaligus meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam jangka panjang.

Kemitraan Chickin: #TumbuhBareng Peternak Indonesia

Sebagai perusahaan agritech yang bergerak di sektor peternakan unggas, Smartfarm Chickin Indonesia menghadirkan program kemitraan untuk mendukung peternak dalam mengelola budidaya ayam broiler secara lebih optimal.

Melalui pendampingan teknis, pemanfaatan teknologi, serta monitoring performa kandang, Chickin membantu peternak meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas usaha. Pendekatan ini diharapkan dapat membuat peternak lebih siap menghadapi berbagai dinamika industri, termasuk saat harga ayam livebird sedang mengalami penurunan.

Pada akhirnya, tidak ada strategi yang dapat menghilangkan fluktuasi pasar sepenuhnya. Namun, dengan pengelolaan yang baik, perencanaan yang matang, dan dukungan dari ekosistem yang tepat, peternak memiliki peluang lebih besar untuk menjaga keberlanjutan usaha dan tetap berkembang di tengah kondisi pasar yang dinamis.

Mari Bergabung dengan Komunitas Broiler Chickin Indonesia

Dengan bergabung bersama komunitas Chickin Indonesia, Anda akan terhubung dengan peternak-peternak broiler lainnya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Anda dapat saling bertanya, diskusi, dan mengetahui update terbaru seputar industri peternakan ayam broiler. Selain itu, Anda dapat pula berkonsultasi dengan tim Chickin Indonesia untuk bertanya perihal beternak ayam broiler.

Komunitas ini terbuka baik bagi Anda yang baru memulai beternak maupun sudah memiliki peternakan dengan populasi dengan jumlah tertentu.

Klik link “Daftar” berikut untuk bergabung komunitas broiler Chickin Indonesia.

Daftar