{"id":5083,"date":"2022-08-30T15:34:11","date_gmt":"2022-08-30T08:34:11","guid":{"rendered":"https:\/\/chickin.id\/blog\/?p=5083"},"modified":"2024-10-07T09:52:21","modified_gmt":"2024-10-07T02:52:21","slug":"penyakit-gumboro-pada-ayam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/chickin.id\/blog\/penyakit-gumboro-pada-ayam\/","title":{"rendered":"<font style=\"vertical-align: inherit;\"><font style=\"vertical-align: inherit;\">Gumboro Disease in Chickens: Causes, Symptoms, and How to Treat It<\/font><\/font>"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img  loading=\"lazy\"  decoding=\"async\"  width=\"579\"  height=\"385\"  src=\"data:image\/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAAkMAAAGBAQMAAABfPyf6AAAAA1BMVEUAAP+KeNJXAAAAAXRSTlMAQObYZgAAAAlwSFlzAAAOxAAADsQBlSsOGwAAADJJREFUeNrtwTEBAAAAwqD1T20LL6AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAADgaW9KAAHkJOxCAAAAAElFTkSuQmCC\"  alt=\"\"  class=\"wp-image-8805 pk-lazyload\"  data-pk-sizes=\"auto\"  data-ls-sizes=\"auto, (max-width: 579px) 100vw, 579px\"  data-pk-src=\"https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-gumboro.png\"  data-pk-srcset=\"https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-gumboro.png 579w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-gumboro-300x199.png 300w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-gumboro-380x253.png 380w\" ><\/figure>\n\n\n\n<h2 id=\"pengertian-gumboro\" class=\"wp-block-heading\">Pengertian Gumboro<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penyakit gumboro (Infectious bursal disease) atau IBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus famili Birnaviridae. Virus ini menyebabkan ayam tampak lesu, sayap menggantung, dan kotoran menempel pada kloaka ayam. Gumboro bersifat menular di antara ayam muda dan bisa berakibat kematian pada ayam atau jenis hewan unggas lainnya.<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"penyebab-penyakit-gumboro\" class=\"wp-block-heading\">Penyebab Penyakit Gumboro<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Virus penyakit gumboro menular adalah birnavirus. Virus ini sangat stabil dan tahan terhadap banyak agen fisik dan kimia. Virus ini mudah menular dan disebarkan lewat kotoran, air, dan pakan yang terkontaminasi. Ini juga dapat dibawa oleh vektor lain seperti tikus dan kumbang tertentu.<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"risiko-gumboro-pada-ayam\" class=\"wp-block-heading\">Risiko Gumboro pada Ayam<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ayam yang terkena penyakit gumboro akan meningkat suhu tubuhnya. Diare urat encer, anoreksia, depresi, bulu acak-acakan, tremor kepala, kantuk, dan kepincangan dapat terjadi. Angka morbiditas mendekati 50% pada ayam pedaging.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Strain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hipovirulen <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">muncul di banyak bagian dunia dan dapat menyebabkan hingga 100% morbiditas dan 80% kematian pada ayam petelur. Mortalitas normal tidak lebih dari 40% pada ayam petelur dan 20% pada strain yang kurang ganas pada ayam pedaging. Virus ini bersifat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">imunosupresif<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"gejala-dan-ciri-ciri-penyakit-gumboro-pada-ayam\" class=\"wp-block-heading\">Gejala dan Ciri-Ciri Penyakit Gumboro pada Ayam<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img  loading=\"lazy\"  decoding=\"async\"  width=\"704\"  height=\"440\"  data-id=\"8806\"  src=\"data:image\/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAAsAAAAG4AQMAAABxeMOdAAAAA1BMVEUAAP+KeNJXAAAAAXRSTlMAQObYZgAAAAlwSFlzAAAOxAAADsQBlSsOGwAAADxJREFUeNrtwQENAAAAwqD3T20PBxQAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA8GKY+AABh4\/WYgAAAABJRU5ErkJggg==\"  alt=\"\"  class=\"wp-image-8806 pk-lazyload\"  data-pk-sizes=\"auto\"  data-pk-src=\"https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/ciri-ciri-penyakit-gumboro.webp\" ><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><b>Usia Kurang dari 3 Minggu<\/b><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penyakit gumboro dapat memanifestasikan dirinya dalam salah satu dari dua bentuk, tergantung pada usia ayam saat terinfeksi. Versi subklinis terjadi pada ayam <\/span>usia kurang dari 3 minggu<span style=\"font-weight: 400;\">, dan biasanya tidak ada tanda-tanda klinis penyakit saat ini.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ayam yang terkena akan mengalami imunosupresi permanen dan parah. Sebagian besar infeksi yang terjadi di lapangan adalah jenis subklinis. Ini merupakan bentuk penyakit yang signifikan dampaknya secara ekonomi.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><b>Usia 3 s.d 6 Minggu<\/b><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga bentuk klinis penyakit yang menyerang ayam yang <\/span>berumur 3 sampai 6 minggu<span style=\"font-weight: 400;\">. Penyakit klinis sering terjadi cukup tiba-tiba dengan peningkatan angka kematian yang cepat. Gejala klinis meliputi gemetar, bulu acak-acakan, nafsu makan yang buruk, dehidrasi, meringkuk, mematuki vent, dan depresi.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seringkali, ginjal tampak bengkak pada unggas yang dinekropsi. Namun, ini kemungkinan terkait dengan dehidrasi parah dan tidak terkait langsung dengan virus IBD itu sendiri. Selain itu, perdarahan juga dapat terjadi pada otot dada dan paha karena virus IBD mengganggu pembekuan darah normal.<\/span><\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"cara-mengobati-gumboro-pada-ayam\" class=\"wp-block-heading\">Cara Mengobati Gumboro pada Ayam<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><b>Gumboro Murni<\/b><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penyakit gumboro murni dapat diobati dengan mudah. Caranya adalah dengan memberikan air gula merah atau Sorbitol selama 3 hari berturut-turut. Pengobatan ini akan membantu menaikkan stamina tubuh ayam dan menambah energi supaya ayam bisa beraktivitas makan dan minum kembali.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca juga jenis penyakit ayam lainnya dalam artikel\u00a0<a href=\"https:\/\/chickin.id\/blog\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya\/\">7 Penyakit Ayam Broiler dan Cara Mengatasinya<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"cara-mencegah-gumboro-pada-ayam\" class=\"wp-block-heading\">Cara Mencegah Gumboro pada Ayam<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Biosekuriti harus menjadi fokus utama dalam pencegahan dan pengendalian penyakit gumboro. Namun biosekuriti saja bukanlah pengendalian yang efektif. Kawanan ayam broiler komersial perlu divaksinasi untuk menghasilkan kekebalan induk yang diteruskan ke anak ayam untuk pengendalian IBD. Sayangnya, banyak peternak ayam rumahan tidak memvaksinasi ayam mereka untuk mencegah virus IBD.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ayam baru yang dibawa ke rumah dari pameran atau setelah dibeli dari peternak harus dikarantina dari ayam-ayam Anda yang lain selama 30 hari. Jika ayam yang dikarantina telah terpapar sesuatu, mereka akan mulai menunjukkan gejala dalam waktu 30 hari. Ketika mereka menunjukkan gejala, setidaknya mereka tidak akan menginfeksi seluruh kawanan ayam Anda di kandang.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\">Selama 30 hari itu, jangan memakai peralatan yang sama di sekitar kawanan ayam peliharaan asli Anda seperti yang dipakai di sekitar ayam yang sedang dikarantina. Ini untuk mencegah kemungkinan penyebaran virus lebih lanjut yang bisa merugikan ayam-ayam lain yang masih sehat.<\/span><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/chickin.id\/\">Chickin<\/a> \u2013 PT Sinergi Ketahanan Pangan.<\/span><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group has-background is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\" style=\"background-color:#c3f6ff\">\n<\/p>\n<p><strong>Mari Bergabung dengan Komunitas Broiler Chickin Indonesia<\/strong><\/p>\n<p>Dengan bergabung bersama komunitas Chickin Indonesia, Anda akan terhubung dengan peternak-peternak broiler lainnya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.<\/p>\n<p>Anda dapat saling bertanya, diskusi, dan mengetahui update terbaru seputar industri peternakan ayam broiler. Selain itu, Anda dapat pula berkonsultasi dengan tim Chickin Indonesia untuk bertanya perihal beternak ayam broiler.<\/p>\n<p>Komunitas ini terbuka baik bagi Anda yang baru memulai beternak maupun sudah memiliki peternakan dengan populasi dengan jumlah tertentu.<\/p>\n<p>Klik link \u201cDaftar\u201d berikut untuk bergabung komunitas broiler Chickin Indonesia.<\/p>\n<p>\u2192 <strong><a href=\"https:\/\/forms.gle\/nxt81PPVKjGmLqyd7\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Daftar<\/a><\/strong><\/p>\n<\/p>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Gumboro Penyakit gumboro (Infectious bursal disease) atau IBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus famili Birnaviridae. Virus ini menyebabkan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":8805,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[43],"tags":[50,49,48],"class_list":["post-5083","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-penyakit","tag-gumboro-ayam","tag-penyakit-gumboro","tag-penyakit-gumboro-pada-ayam"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5083","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5083"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5083\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8807,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5083\/revisions\/8807"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8805"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5083"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5083"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5083"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}