{"id":3446,"date":"2022-08-21T21:28:04","date_gmt":"2022-08-21T14:28:04","guid":{"rendered":"https:\/\/chickin.id\/blog\/?p=3446"},"modified":"2024-10-04T13:34:56","modified_gmt":"2024-10-04T06:34:56","slug":"penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/chickin.id\/blog\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya\/","title":{"rendered":"7 Penyakit Ayam Broiler dan Cara Mengatasinya"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img  loading=\"lazy\"  decoding=\"async\"  width=\"683\"  height=\"1024\"  src=\"data:image\/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAAqsAAAQAAQMAAAD83oKlAAAAA1BMVEUAAP+KeNJXAAAAAXRSTlMAQObYZgAAAAlwSFlzAAAOxAAADsQBlSsOGwAAAG1JREFUeNrtwTEBAAAAwqD1T20JT6AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHgaXA8AAaOSslwAAAAASUVORK5CYII=\"  alt=\"\"  class=\"wp-image-8766 pk-lazyload\"  data-pk-sizes=\"auto\"  data-ls-sizes=\"auto, (max-width: 683px) 100vw, 683px\"  data-pk-src=\"https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-683x1024.jpg\"  data-pk-srcset=\"https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-683x1024.jpg 683w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-200x300.jpg 200w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-768x1152.jpg 768w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-1024x1536.jpg 1024w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-1365x2048.jpg 1365w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-380x570.jpg 380w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-800x1200.jpg 800w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-1160x1740.jpg 1160w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-2048x3072.jpg 2048w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-760x1140.jpg 760w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-1600x2400.jpg 1600w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-400x600.jpg 400w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-1536x2304.jpg 1536w, https:\/\/static.chickin.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/08\/penyakit-ayam-broiler-dan-cara-mengatasinya-2-scaled.jpg 1707w\" ><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Popularitas ayam broiler hingga hari ini masih dalam permintaan pasar yang tinggi, loh! Memulai beternak ayam broiler dapat menjadi pilihan yang tepat.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menjaga ayam broiler agar tetap sehat adalah hal yang penting untuk diperhatikan, dengan cara perawatan ayam broiler yang baik dan telaten guna menghasilkan ayam broiler tetap dalam kualitas terbaik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk <a href=\"https:\/\/chickin.id\/blog\/cara-beternak-ayam-potong-broiler\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">memulai beternak ayam broiler<\/a>, kamu pasti akan menghadapi tantangan-tantangan tersendiri yang salah satunya adalah penyakit-penyakit yang rentan menginfeksi ternak ayam broiler.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikut, Chick-In akan mengulas 7 penyakit pada ayam broiler dan cara mengatasinya:<\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"1-penyakit-tetelo-newcastle-disease\" class=\"wp-block-heading\">1. Penyakit Tetelo (<em>Newcastle Disease<\/em>)\u00a0<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu penyakit yang umum dengan angka cukup tinggi yang ditemukan pada ternak ayam broiler, yaitu <strong>penyakit tetelo yang disebabkan oleh virus yang bernama <\/strong><strong><em>Paramyxo.<\/em><\/strong><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Virus <em>Paramyxo<\/em> menyerang <strong>sistem pernapasan dan jaringan saraf<\/strong>. Dimana ayam yang terinfeksi oleh virus ini memiliki gejala napas yang berat, batuk, sulit bernapas, lesu, kehilangan nafsu makan, pembengkakkan pada jaringan mata dan leher, dan diare.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penanganan Penyakit Tetelo Pada Ayam Broiler<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sayangnya, belum ada obat pasti untuk menyembuhkan penyakit tetelo pada ayam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang dapat dilakukan adalah<strong> langsung mengisolasi ayam yang terinfeksi <\/strong>dan <strong>melakukan pencegahan<\/strong> dengan cara melakukan vaksinasi pada ayam, pengelolaan kandang yang baik, dan pemberian pakan yang bernutrisi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca juga: <strong>3 Cara Vaksinasi Ayam Broiler<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"2-penyakit-feses-kapur-pullorum\" class=\"wp-block-heading\">2. Penyakit Feses Kapur (<em>Pullorum<\/em>)\u00a0<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Disebabkan oleh <strong>bakteri <\/strong><strong><em>Salmonella Pullorum<\/em><\/strong><em>, <\/em>penyakit feses kapur atau biasa dikenal juga sebagai diare kapur yang menyerang <strong>sistem pencernaan<\/strong> dari ternak ayam broiler.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gejala klinis yang dialami oleh ayam yaitu tidak nafsu makan, sayap mengkerut, dan sesak nafas. Namun, gejala tersebut tidak selalu spesifik dan cenderung bervariasi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ciri-ciri ayam yang terinfeksi bakteri ini dapat dilihat dari kotoran ayam yang cair dan berwarna putih. Apabila kotoran itu dibiarkan mengering dan menjadi kapur, penyakit diare kapur ini dapat menular pada ternak ayam yang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penanganan Penyakit Feses Kapur Pada Ayam Broiler\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rajin memantau keberlangsungan ternak ayam termasuk pada warna kotorannya. <strong>Penggunaan antibiotik untuk mengatasi diare kapur pada ayam tidak dianjurkan<\/strong>, karena khawatir menyebabkan <em>carrier.\u00a0<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Langsung lakukan isolasi pada ayam yang terinfeksi bakteri, untuk menghindari penularan pada ayam yang lain. Jangan lupa untuk selalu memantau kebersihan kandang dan juga sanitasi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"3-penyakit-gumboro-infectious-bursal-disease\" class=\"wp-block-heading\">3. Penyakit Gumboro (<em>Infectious Bursal Disease)\u00a0<\/em><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penyebab dari penyakit gumboro adalah<strong> virus jenis <\/strong><strong><em>Avibirnavirus.<\/em><\/strong><em> <\/em>Sesuai dengan namanya, penyakit ini pertama ditemukan pada tahun 1962 di wilayah Gumboro, Amerika Serikat.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Infeksi dari virus ini menyerang fibrikus dan thymus pada ayam yang berfungsi untuk menciptakan antibodi untuk ketahanan tubuh ayam terhadap penyakit. Akibatnya adalah, terjadi <strong>penurunan respon antibodi ayam<\/strong> terhadap vaksinasi sehingga ayam menjadi rentan terkena penyakit.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dapat diumpamakan seperti penyakit AIDS bagi ayam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penanganan Penyakit Gumboro Pada ayam Broiler\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selayak kebanyakan virus yang menyerang unggas, penyakit Gumboro sendiri belum memiliki obat spesifik dalam penanganannya, namun tentu dapat dilakukan pencegahan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk meminimalisir ayam terinfeksi penyakit gumboro, optimalisasi terhadap sanitasi kandang harus diperhatikan secara telaten bahkan sebelum ayam DOC masuk. Melaksanakan vaksinasi, pemberian pakan yang bernutrisi, dan multivitamin sudah menjadi mutlak.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"4-penyakit-ngorok-chronic-respiratory-disease-crd\" class=\"wp-block-heading\">4. Penyakit Ngorok (<em>Chronic Respiratory Disease <\/em>[CRD]<em>)<\/em><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selaras dengan namanya yaitu penyakit ngorok, penyakit ini diakibatkan oleh bakteri <em>Mycoplasma galliseptiucum <\/em>yang <strong>menyerang sistem pernapasan<\/strong> ayam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gejala yang timbul apabila ayam terinfeksi bakteri ini adalah sesak nafas, bersin-bersin, keluar cairan dari hidung atau mulut, ngorok saat bernapas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penanganan Penyakit Ngorok Pada Ayam Broiler\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penyakit ngorok dapat ditangani dengan menggunakan antibiotik dengan tujuan untuk mengontrol penyebaran penyakit, khususnya dalam mengendalikan tingkat <em>stress <\/em>pada ayam saat penyakit terdeteksi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perhatikan kebersihan sanitasi dan lakukan pemberian desinfektan secara rutin guna menjaga kebersihan kandang, juga pastikan suhu kandang tidak lembab dan tetap stabil.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca juga: <strong><a href=\"https:\/\/chickin.id\/blog\/suhu-yang-tepat-pada-peternakan-ayam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Suhu yang Tepat Pada Peternakan Ayam<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"5-penyakit-flu-burung-avian-influenza\" class=\"wp-block-heading\">5. Penyakit Flu Burung (<em>Avian Influenza)<\/em><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Virus yang menyebabkan ayam terkena flu burung adalah virus jenis <strong>virus <\/strong><strong><em>Influenza <\/em><\/strong><strong>tipe A<\/strong>, yang <strong>menginfeksi sistem pernapasan<\/strong> pada ayam.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penyakit flu burung dapat mematikan, bahkan beberapa jenisnya dapat mewabah menular pada manusia. Gejala klinis pada ayam dari penyakit ini adalah ngorok saat bernafas, keluar cairan dari mata dan hidung, kulit perut dan pial yang tidak memiliki bulu berubah menjadi warna biru keunguan, diare, kematian ayam secara bersamaan dengan angka yang cukup tinggi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu seperti pada umumnya, segera isolasi ayam yang telah terinfeksi. Apabila ada indikasi sudah tertular maka harus dilakukan pemusnahan ternak secara menyeluruh <em>(stamping out).<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pencegahannya dapat dilakukan dengan cara memberikan vaksinasi pada ternak, meningkatkan prosedur biosekuriti dan dekontaminasi pakan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"6-penyakit-kolibasilosis\" class=\"wp-block-heading\">6. Penyakit Kolibasilosis\u00a0<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selanjutnya adalah bakteri <em>Escherichia colli <\/em>yang menjadi dalang dari penyakit kolibasilosis yang <strong>menyerang sistem pencernaan<\/strong> pada ayam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ciri-ciri dari ayam yang telah terinfeksi penyakit kolibasilosis adalah tampak kusam, napas yang sesak, bulu yang di sekitar anus menjadi lengket, diare, dan lesu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penanganan Penyakit Kolibasilosis Pada Ayam Broiler\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada ayam yang terinfeksi penyakit ini dapat diobati menggunakan beberapa jenis antibiotik yaitu, trimetoprim, sulfadiazin, ampicillin, colistin, neomycin, dan enrofloksasin.<\/p>\n\n\n\n<h2 id=\"7-penyakit-snot-infectious-coryza\" class=\"wp-block-heading\">7. Penyakit Snot (<em>Infectious Coryza )<\/em><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalang utama dari penyakit snot pada ayam adalah <strong>bakteri <\/strong><strong><em>Haemophilus Paragallinarum <\/em><\/strong>yang<strong> menginfeksi sistem pernapasan<\/strong><strong><em>.<\/em><\/strong><em>\u00a0<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gejala yang dialami ayam yang telah terkena penyakit snot ini adalah pembengkakkan pada wajah ayam khususnya di daerah sekitar mata, bersin, mata berair, keluar cairan dari hidung, dan kesulitan bernapas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Penanganan Penyakit Snot Pada Ayam Broiler\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk ayam yang sudah terserang penyakit snot, dapat diobati dengan menggunakan pengobatan eritromisin, sulfadiazin, ampisilin, trimetropim, dan tetrasiklin.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menjaga kebersihan kandang dengan rutin melakukan desinfeksi pada lingkungan dan peralatan kandang dapat membantu mencegah ayam terserang oleh bakteri penyebab penyakit snot.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Terapkan 4M Guna Mencegah Ayam Terserang Penyakit\u00a0<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Menjaga kebersihan kandang\u00a0<\/li>\n\n\n\n<li>Memberikan pakan yang bernutrisi\u00a0<\/li>\n\n\n\n<li>Menjaga suhu kandang agar tetap stabil\u00a0<\/li>\n\n\n\n<li>Menggunakan <a href=\"https:\/\/chickin.id\/smart-farm\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\" title=\"https:\/\/chickin.id\/smart-farm\/\">Chickin App Smart Farm<\/a> untuk mengelola kandang!\u00a0<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Chickin App Smart Farm hadir untuk membantu para peternak mengelola kandang dengan basis teknologi yang membantu pengelolaan kandang secara real-time, guna mengatur kandang produksi secara optimal, produktif, serta efisien.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil dari pengelolaan Chickin Smart Farm dapat kamu jumpai di <a href=\"https:\/\/chickin.id\/chickin-fresh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Chickin Fresh<\/a>. Dengan mempertahankan kualitas ayam dalam 5 no yaitu no bau, no memar, no lendir, no bulu dan no dolar; kamu dapat memesan ayam dengan mudah hanya dalam satu klik dari rumah!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bersama Chickin, wujudkan sinergi ketahanan pangan Indonesia!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Chickin Indonesia \u2013 PT. Sinergi Ketahanan Pangan<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-css-opacity\"\/>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group has-background is-layout-flow wp-block-group-is-layout-flow\" style=\"background-color:#c3f6ff\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Mari Bergabung dengan Komunitas Broiler Chickin Indonesia<\/strong><br><br>Dengan bergabung bersama komunitas Chickin Indonesia, Anda akan terhubung dengan peternak-peternak broiler lainnya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.<br><br>Anda dapat saling bertanya, diskusi, dan mengetahui update terbaru seputar industri peternakan ayam broiler. Selain itu, Anda dapat pula berkonsultasi dengan tim Chickin Indonesia untuk bertanya perihal beternak ayam broiler.<br><br>Komunitas ini terbuka baik bagi Anda yang baru memulai beternak maupun sudah memiliki peternakan dengan populasi dengan jumlah tertentu.<br><br>Klik link \u201cDaftar\u201d berikut untuk bergabung komunitas broiler Chickin Indonesia.<br><br>\u2192 <strong><a href=\"https:\/\/forms.gle\/nxt81PPVKjGmLqyd7\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Daftar<\/a><\/strong><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>7 Penyakit yang umum menyerang ternak ayam broiler, berikut simak Chickin membahas macam-macam penyakit pada ayam broiler dan bagaimana cara mengatasinya.<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":8757,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-3446","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-education"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3446","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3446"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3446\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8767,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3446\/revisions\/8767"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8757"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3446"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3446"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/chickin.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3446"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}